BEING A MEDICAL STUDENT : A DESTINY OR A MISTAKE? (PART 2)

Sebenarnya saya bingung harus mulai menuliskan darimana, karena banyak hal yang telah saya lewatkan selama saya tidak aktif menulis. Pada tulisan terakhir saya membahas perjalanan saya memasuki kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran di FK UNTAN. Maka, sepertinya agar lebih runtut maka akan saya coba bahas kelanjutan kisah saya menjadi mahasiswa kedokteran hingga saat ini, tahun ketiga saya.

***

Memasuki kehidupan di kampus putih, tidak seperti anak-anak lainnya, yang mungkin ceria dan tidak sabar untuk segera memulai masa perkuliahan. Ya, tidak untukku karena rasanya masih berat untuk menerima kenyataan bahwa saya akan melangkah kedalam zona yang cukup sempit sehingga membuat saya tidak leluasa untuk bergerak, bergerak dalam hal prestasi dan organisasi.

Kisah yang saya ingat dalam kehidupan pertama saya di kampus putih itu adalah matrikulasi, yang dimana kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan FK UNTAN dan sistem pembelajarannya oleh dosen-dosen di fakultas kedokteran itu sendiri, kalau tidak salah kegiatan ini berlangsung selama seminggu, terdiri dari kuliah dan simulasi diskusi kelompok. Cukup menyenangkan untukku, namun sedikit menyinggung bahwa lagi-lagi ada dosen yang sedang memberikan kuliah malah balik bertanya kepada peserta matrikulasi bahwa apakah pilihan mereka saat ini merupakan cita-cita mereka? Apakah memang mereka ingin menjadi dokter? Siapkah kalian menjadi dokter yang notabene nya memiliki masa studi paling lama dibandingkan jurusan lainnya? Aku terdiam, dan air mata sebenarnya sudah tergenang di sudut mata tapi tetap aku tahan agar tak jatuh.

Hari-hari matrikulasi dijalani dengan cukup menyenangkan untukku, karena bertemu dengan teman-teman baru, teman yang selama ini hanya aku temui via grup Line, karena pada awalnya ada yang berinisiatif untuk membuat grup angkatan Prodi Pendidikan Dokter 2015, finally we meet each other! Orang-orang yang masuk ke prodi ini ternyata orang-orang hebat  menurutku, ada beberapa wajah yang tidak asing, karena saat SMA aku sering menjumpai mereka dalam 1 kompetisi yang sama. Gila, bukan? Aku sempat minder ketika berkenalan dengan teman-teman baru itu, mereka orang pintar, orang hebat, dari luar Kalimantan Barat, dan prestasinya banyak menurutku, aku semakin down dan semacam “tau diri” untuk bergaul dengan mereka. Meskipun aku senang ternyata ada teman dari SMA 9 juga yang ikut masuk, jadi aku setidaknya masih bisa nempel terus dengannya selama belum akrab dengan yang lain. Tetapi ternyata tidak perlu waktu lama untukku mengenal 76 orang teman angkatan itu, dalam masa matrikulasi aku hampir hafal semua nama mereka meskipun sekitar 6-8 orang yang masih aku lupakan namanya karena mereka pendiam dan “susah didekati” olehku.

Masa kecil
Matrikulasi
Not bad untuk permulaan ini, setiap hari aku selalu berusaha untuk mengikhlaskan jalan yang telah aku ambil. Belum lagi fakultas kedokteran lokasinya paling pinggir dan terpojok, dimana untuk pergi kesana aku harus melewati Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) setiap hari, “kampus biru, harusnya aku disitu” aku bergumam dalam hati setiap hari melewati fakultas itu. Oh iya, saat itu sedang terjadi bencana kabut asap yang sangat parah, silahkan cek berita-berita di google seberapa mengerikannya kabut asap saat itu. Meskipun sedang berkabut, aku tetap kuliah, karena tidak ada libur seperti sekolah-sekolah SD/SMP/SMA lain di Kota Pontianak.

Matrikulasi selesai, dilanjutkan dengan penerimaan mahasiswa baru oleh universitas dan fakultas. Aku masih ingat betapa serunya upacara PMB pertama didepan rektorat, dimana ketika kami pulang upacara dan melewati fakultas-fakultas tertentu, para kakak senior menjaga mahasiswa baru dari “godaan-godaan” orang-orang yang tidak jelas menurutku yang mungkin masih berstatus mahasiswa, orang-orang itu sempat melakukan kontak fisik, namun kakak senior tetap menjaga kami dan menyuruh kami tidak usah mempedulikan mereka yang menjegal kami dijalan. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan orientasi mahasiswa baru selama 3 hari yang disebut EUREKA.
1441193825042.jpg
Pembuatan konfigurasi Keluarga Mahasiswa (KM) FK UNTAN dalam kegiatan EUREKA
Saat EUREKA aku masih terbawa sifat ambisius, yaitu harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Aku sangat mengaktifkan diri selama kegiatan tersebut berlangsung, hal ini sama seperti yang aku lakukan ketika mengikuti kegiatan-kegiatan seminar di SMA, dan salah satu faktor yang mendorong aku terpilih untuk mengikuti event LASENAS di Riau, ya karena aku yang terlalu “hiperaktif”. Ternyata semuanya berbeda, dan memang mungkin “hiperaktif”ku terlihat sangat annoying bagi panitia maupun sesama (karena pada akhirnya aku paham betapa menyebalkannya orang yang terlalu mendominasi dalam sebuah kegiatan, hahaha), aku sudah muak dengan sesi renungan diri yang selalu membawa “orang tua” untuk membuat mahasiswa menangis, di Pramuka sudah sering seperti itu, bahkan di seminar Spiritual Journey juga, bukannya nangis, aku malah tertawa lihat yang lain nangis, aku sudah resisten, toh? Ditambah lagi ternyata di dalam kehidupan kampus menurutku juga mengutamakan permasalahan “keagamaan” seseorang. Aku takut ketika beribadah karena adanya suruhan malah akan membuatku semacam "mencari muka" agar aku dipandang baik karena ibadahku, padahal tidak.

Hingga pada akhirnya di penghujung kegiatan, yang memang sudah ketebak bakal memilih peserta terbaik putra dan putri, aku memang tidak terpilih menjadi peserta terbaik putri meskipun pada saat itu orang-orang dalam ruangan sudah menyebut-nyebut namaku, dan memang saat itu aku sangat optimis aku akan terpilih menjadi peserta terbaik, namun tidak terpilih, ya sudahlah aku juga mengintrospeksi diriku sendiri, mungkin dari sikap hingga permasalahan spiritualku memang bermasalah. Kenapa aku bisa tau? Ya karena saat sesi penutupan dan salam-salam, ada kakak yang berpesan padaku “semangat ya, ibadahnya ditingkatkan lagi”. Nah.

Tidak terpilihnya aku menjadi peserta terbaik saat itu, membuat aku terpacu menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Thanks to kakak panitia! Honestly, saat itu semangat revenge-ku berkobar-kobar, ya biasalah egoisme anak SMA yang masih ada, egoisme bahwa tidak ada yang boleh mengalahkanku memang sangat besar, dan itulah yang memacu aku untuk menjadi orang yang terbaik didalam sebuah perkumpulan. Belajar dari pengalaman saat SMA, saat aku diremehkan karena katanya tidak berkapabilitas menjadi seorang pemimpin namun pada akhirnya orang-orang mengakui sendiri mengenai progresivitasku yang cukup berbeda dari yang dulu, menjadi lebih baik. Aku mengambil sisi positif dari tidak terpilihnya aku menjadi peserta terbaik, “akan aku buktikan sama kalian, bahwa kalian sudah salah memilih orang, it should be me! Aku akan jadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNTAN” kira-kira begitu ultimatumku saat itu. Lucu juga ketika mengingat saat-saat dimana seorang Fithriyyah yang baru lulus SMA terbakar amarah ego dan dengan sombongnya mengultimatum untuk “balas dendam” katanya. Tolong ambil yang baik, buang yang jahat ya readers :D

Baiklah, selesai sudah cerita tentang bimbingan mahasiswa baru tingkat fakultas, kini saatnya aku dioper ke himpunan mahasiswa jurusan masing-masing untuk dibina lebih lanjut. Ternyata cukup lama juga ya “MOS”nya anak kuliahan menurutku. Well, pembinaan di Pendidikan Dokter yang disebut MABIM itu berlangsung selama setahun, terdiri dari dua kegiatan yaitu Mengenal Dunia Kampus (Medika) dan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa, tetapi hasilnya juga tidak mengecewakan. Akhirnya aku (bersama 1 orang teman laki-laki) mendapatkan predikat peserta terbaik di LKMM dan terpilih untuk menjadi perwakilan FK UNTAN mengikuti LKMM tingkat lanjutan di wilayah 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI).

1516378304601
Momen LKMM terakhir
Masa MaBa (Mahasiswa Baru), merupakan masa yang menurutku menyenangkan namun menyakitkan juga, karena aku terikat pada peraturan untuk terus memakai nametag, pin, berkenalan dengan senior, mengerjakan tugas kaderisasi disamping tugas kuliah, dll. Namun, ini benar-benar membentuk aku menjadi pribadi “mahasiswa kedokteran” sesungguhnya, terutama dalam hal etika. Di sisi akademik, aku mungkin memang bermasalah pada yang namanya “nilai” karena pada saat SMA menurutku gampang-gampang saja mendapatkan nilai 100! Namun disini, rasanya kok susah sekali ya? Alhamdulillahnya, hingga tahun ketiga aku berkuliah disini, sampai detik aku menuliskan kisah ini, aku masih bisa mempertahankan IPK diatas 3,5. Karena dari awal untuk bidang akademik, aku berkomitmen  untuk lulus dengan cum laude, mematok target tiap modul minimal harus mendapat B, tidak kurang tapi boleh lebih, meskipun setiap semester grafik IPK-ku naik turun. Meskipun pada kenyataannya memang jarang mendapat nilai A, tetapi namanya juga usaha, harus selalu diperjuangkan bukan? Dan sebenarnya hal lain yang memacu aku untuk terus mempertahankan IPK diatas 3,5 karena seperti di awal tadi, karena aku ingin menjadi Mawapres UNTAN.

Beralih ke ranah organisasi, saat itu, saat masih menjadi maba, saat masih terbakar ego SMA (ini lagi ini lagi), aku aktif dalam banyak kegiatan, baik didalam kampus maupun diluar kampus. Rasanya kalau tidak berorganisasi atau tidak sibuk itu aneh, dirumah mondar-mandir tidak jelas, cemas, ngantuk terus, intinya ngga tenang gitu deh. Di kampus, aku mengikuti magang di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Minerva dan masuk ke divisi tari tradisional, karena aku senang untuk belajar budaya khususnya budaya tari, yang dimana kemampuan ini juga akan berguna ketika aku ikut kegiatan-kegiatan keluar seperti pertukaran ataupun pelatihan kepemudaan. Selain UKM Seni, aku juga bergabung di UKM Keilmiahan bernama MYRSA sebagai staff Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa & Organisasi (PSDMO) karena disini aku menemukan minat di PSDMO yang cukup besar sebagai passion berorganisasi, kenapa aku bergabung di UKM ini, karena saat SMA aku dapat berprestasi juga karena didukung oleh seringnya aku memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelajar.



new
Tim Tari UKM Minerva FK UNTAN


1516378525637

Diluar kampus, aku mulai melanjutkan di Earth Hour dan menjelajahi komunitas-komunitas lain, Hilo Green Community Pontianak, Khatulistiwa English Community, mengikuti lomba Duta HIV/AIDS dan sempat menyabet harapan 2, lalu aku juga mengikuti program-program kepemudaan yang ada di Pontianak, aktif di Keluarga Besar Duta Lingkungan Hidup Pontianak. Terceburnya aku dalam ranah “lingkungan” membuat aku jatuh cinta pada isu yang satu ini, sehingga aku lebih condong dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbasis lingkungan hidup, DLH , EH, dan HGC memberikan aku banyak ruang untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, menjadi pembicara, narasumber radio, membuat proyek lingkungan kecil-kecilan, hingga menjadi koordinator dalam kegiatan lingkungan nasional. Menurutku, hal-hal ini yang tidak aku dapatkan dalam organisasi dalam kampus. Justru menurutku, sebagai mahasiswa kita harus juga aktif di organisasi/LSM/komunitas diluar kampus agar kita tau bagaimana permasalahan yang ada di masyarakat.

1516378489152
Duta HIV/AIDS Kalimantan Barat 2015
1516378450342
EH sebagai Narasumber dalam program PRO 2 RRI Pontianak
1516378886095.jpg
HGC sebagai narasumber dalam program PRO 2 RRI Pontianak
Hingga pada akhirnya, aku belajar bahwa baik organisasi dalam maupun luar kampus, mempunyai peran masing-masing dalam membentuk aku saat ini. Kegiatan didalam kampus mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih tertata, mengetahui regulasi, berinteraksi dengan sesama mahasiswa dengan idealisme yang berbeda-beda, menjadi disiplin. Sedangkan kegiatan diluar kampus mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih luwes, berimporvisasi, peka terhadap masyarakat, dan dapat bergaul dengan semua orang dari kalangan berbeda usia, ras, ekonomi, dsb. Ternyata semuanya tidak terlalu buruk seperti yang aku bayangkan. Menjadi mahasiswa kedokteran yang “plus-plus” seperti aku jalani seperti ini lumayan cukup menguras tenaga dan emosi. Memang terkadang kendala dari perkuliahan yang akan membatasiku ikut kegiatan di hari sabtu/minggu, ntah karena ada kuliah di hari “weekend” atau karena memang jadwal kuliah yang padat sehingga aku terlalu lelah untuk ikut rapat terlalu banyak.

Pahit dan manis menjadi mahasiswa kedokteran “plus-plus” akan dibahas di tulisan selanjutnya. Jadi, cukup sekian kisah “mahasiswa baru” di tahun pertama. Semuanya ada hikmah kok! Where there’s a will, there’s a way. Semua dapat dilakukan, tginggal bagaimana cara kita memperjuangkan apa yang kita inginkan, tidak peduli bagaimana dunia menyiksamu. Keep fighting!

0 Comments