BEING A MEDICAL STUDENT : A DESTINY OR A MISTAKE? (PART 3)

Kembali lagi membaca tulisanku mengenai lika-liku kehidupan seorang “MedStud” yang pada awalnya masih belum rela untuk mengabdikan dirinya di salah satu jurusan yang kuliahnya paling lama ini. Well, the journey already begun.

Masa-masa maba yang telah aku jalani selama ini memberikan banyak hal yang membuatku semakin kuat, ada satu bagian yang terlewat, menurutku ini salah satu chapter dalam perjalanan yang sangat penting, titik balik dari hidupku sendiri. Saat bergabung di UKM keilmiahan, saat itu UKM tersebut sedang menginisasi sebuah kegiatan nasional yang akan diselenggarakan dengan membawa nama FK UNTAN karena pada dasarnya memang UKM langsung membawahi 3 prodi. Sekitaran bulan April, saat itu aku ditunjuk untuk menjadi seorang ketua panitia, dengan kondisi tidak berpengalaman untuk menyelenggarakan kegiatan sebesar itu, meskipun dulu di SMA aku sering terlibat kepanitiaan dan selalu ditunjuk menjadi ketua panitia, tetapi yang satu ini beda, pergerakan kegiatannya nasional!. “Hidup itu adalah sebuah progress, jika mau jadi intan, ya harus ditempa dulu, pake palu, api, bara, dibakar, didinginkan. Tapi hasilnya, intan itu jadi barang yang sangat bernilai harganya.”

Aku tidak akan bisa maju kalau misalnya aku tetap diam didalam zona nyaman, “pelaut yang handal tidak lahir di laut yang tenang, bukan?”. Menjalani posisi sebagai ketua dengan memimpin teman-teman lintas prodi, juga bekerjasama dengan senior (SC) membuat aku lebih memahami regulasi kampus serta menjadi mahasiswa “seutuhnya”. Kegiatan itu merupakan lomba ilmiah untuk mahasiswa kesehatan diseluruh Indonesia, dan direncanakan akan diselenggarakan Oktober 2016. Menjalani hari-hari sebagai ketua ternyata tidak enak, aku benar-benar stress saat itu, tertekan, dan selalu dibayang-bayangi oleh hantu “dana” yang menuntut untuk diselamatkan. Ya, namanya juga acara nasional, anggaran sangat besar, dan kampus hanya dapat membantu sedikit, sisanya? Dengan usaha mengelola keuangan yang ada, aku ambil resiko.

1516561746096.jpg
Saat memberi kata sambutan
Libur semester membuat panitia sebagian pulang kampung, meninggalkan tanggungjawabnya disini bersamaku. Aku? Hanya bisa pusing tujuh keliling memikirkan hal itu. Rasa-rasanya dalam panitia ini hanya segelintir saja yang sadar akan tanggungjawabnya, aku kesal. Hampir setiap hari aku pergi mengantar proposal pengajuan dana ke instansi dan donatur, ya sendiri. Bukan hanya mengantar namun juga follow up, serta audiensi. Tak apa, setidaknya ini membuat aku kaya akan pengalaman, dan paham instansi-instansi mana saja yang bisa aku coba ajukan lagi di kemudian hari kalau butuh. Sempat saat itu aku ditawari opsi oleh ketua UKM untuk membatalkan kegiatan ini, namun aku TOLAK. Ya iyalah, kegiatan sudah setengah jalan, mau dibawa kemana nama baik UKM dan kampus kita? Aku memberanikan diri. Saat itu masalah yang ada benar-benar kompleks: jumlah peserta yang sedikit, dana yang tidak mencukupi, rasa tanggungjawab panitia yang sangat kurang, ditambah lagi dengan beban akademik, saat itu aku benar-benar down namun berusaha untuk menyembunyikan itu didepan panitia. Menyembunyikan bukan berarti aku terlihat baik-baik saja, namun ternyata hal ini mempengaruhi aku dalam bertindak. Aku sangat detail, padahal aku bukanlah tipe orang yang cermat dan suka mengerjakan hal-hal kecil. Aku membuat timeline, mengontrol semua bidang terutama bidang acara, aku juga membantu jualan bidang dana usaha, membantu survey hotel, sampai menyelenggarakan bimbingan kepada LO, itu juga aku. Semua benar-benar aku tracking agar tidak ada yang miss, aku handle apa yang setiap bidang tidak bisa lakukan, bahkan aku sempat memarahi senior karena menurutku mereka juga ikut-ikutan down, dan ternyata sikapku yang seperti ini tidak disukai panitia.

Menjelang hari H, semuanya makin terasa rumit, aku memutar otak untuk mengelola dana peserta, uang konsumsi kuperintahkan untuk dipotong, semua yang dapat aku efisienkan uangnya, akan kusuruh potong. Aku makin tidak bisa tidur, selalu teringat hal-hal kecil untuk di follow up di setiap bidang. Saat hari H aku sudah tidak konsentrasi kuliah, belum lagi menjelang ujian, aku akhirnya “mengikhlaskan” kalau aku akan mendapat nilai C pada modul Tumbuh Kembang saat itu. Mungkin karena aku tertekan, stress, dan pusing, selama acara berlangsung aku menjadi orang yang sangat bawel dan cerewet, belum lagi ditambah insiden salah paham ketika negosiasi harga sewa gedung, aku hampir dilaporkan polisi karena dituduh mencemarkan nama baik orang yang bertanggungjawab atas gedung tersebut. Akhirnya aku menangis dibawah kolong meja bersama koordinator acara, namun aku kembali memasang wajah baik-baik saja didepan panitia. 3 hari kegiatan, aku kurang tidur, tidak pulang kerumah, memantau sana-sini dan hampir gila rasanya. Keuangan hampir kacau, bahkan dengan aku memutar otak setengah mati saja pada akhirnya masih kekurangan 5 juta untuk menutupi pembayaran-pembayaran yang belum lunas.
Pada akhirnya keajaiban datang, aku sangat bersyukur karena jalanku dipermudah sama Allah, selang beberapa hari setelah kegiatan, proposal ke Walikota Pontianak tembus dan mendapat 5 juta. Alhamdulillah, bisa menutupi hutang-hutang yang belum dibayar. Sisanya, kegiatan tersebut sukses meskipun dengan kendala-kendala kecil seperti city tour yang ngaret dan sedikit kacau.
Aku mengevaluasi diri, ntahlah, aku hanya merasa bahwa orang-orang tidak mengerti dengan apa yang aku hadapi, mungkin mereka berpikir aku terlalu berlebihan padahal semuanya adalah tanggungjawabku, bahkan insiden aku yang hampir dilaporkan polisi, siapa yang tau kecuali SC yang menemaniku saat dimarahi? Masalah deficit 5 juta, siapa yang tau? Mereka tidak ambil pusing. They will never understand until it happens to them. Memulai lebih sulit daripada mempertahankan. Hingga pada akhirnya, kejelekanku dalam memimpin kepanitiaan tersebut menjadi bahan omongan dimana-mana, bahkan ketika aku mencalonkan diri menjadi ketua UKM dan ketua himpunan, hal tersebut tetap dibahas. “terlalu ambisius, terlalu diktator, terlalu cerewet, suka marah-marah, tidak peduli perasaan orang, gegabah, tidak sabaran, dsb”. Ya, aku terima semua itu, mungkin sudah saatnya aku memperbaiki diri, dan aku sadar diri, kok. Aku hanya berharap suatu hari nanti kalian bisa paham kenapa aku seperti itu, dan ternyata terbukti, tahun ini kembali diadakan lagi event yang sama, karena panitia terlihat mangkir dari tanggungjawab, akhirnya aku diminta untuk membantu sang ketua baru untuk menggerakkan massa. I’ll do my best, aku hanya berharap sekali lagi, mereka harus belajar memahami lebih dalam.

1516561555028 

Itu merupakan pengalaman yang tidak akan aku lupakan, karena hal itulah aku jadi tau siapa yang menjatuhkanku, dan siapa yang bersamaku. Untungnya lagi, di modul Tumbuh Kembang yang saat itu aku tidak fokus lagi dalam belajar, malah mendapat nilai A. Alhamdulillah. Oh iya, hal lain yang kuingat saat itu adalah bagaimana film Rudy Habibie membantuku untuk bangkit setelah down. Saat itu aku sudah tidak bersemangat & ingin menyerah, namun melihat perjuangan Habibie saat menjadi ketua PPI tidak mudah, masa aku harus menyerah? Eyang Habibie yang notabenenya menjadi ketua di sebuah organisasi besar aja tidak mudah menyerah seperti itu, dan akhirnya dia bisa menunjukkan bahwa dia berhasil membawa kesuksesan di organisasi itu. Bagaimana dengan aku? Hanya sebuah kepanitiaan? Aku pasti bisa. Dan akhirnya aku kembali bersemangat lagi, dan setiap aku down, aku akan nonton Rudy Habibie kembali.

1516562754414
Juara Harapan 2 LKTI LITBANG Kal-Bar
Oke, lanjut ke inti utama. Saat maba aku memang sudah berniat untuk menjadi Mawapres, maka sebenarnya kesempatan apapun akan aku ambil untuk memperkaya diri. 2016 aku memenangkan beberapa lomba karya tulis, lumayan untuk tabunganku di Mawapres dan mengobati rindu karena sudah lama tidak menulis karya ilmiah. Lalu, pertama kalinya aku mengikuti kegiatan keluar Kalimantan adalah LKMM Wilayah 2 Generasi - 9 di Lembang pada bulan Agustus 2016, disitulah aku mendapat keluarga baru yang luar biasa dan mulai minat masuk ISMKI. Pada awalnya, di bulan Agustus harusnya aku mendapat 3 kesempatan untuk ikut program. Saat itu aku juga lolos sebagai delegasi untuk mengikuti Kongres Bahasa di Bandung, dan rentang waktunya hanya seminggu sebelum kegiatan LKMM dimulai, aku bingung, mau tinggal dimana selama seminggu di Bandung menunggu LKMM? Lagipula kongres tersebut berbayar dan aku harus menabung uang untuk LKMM (karena self-funded), akhirnya aku merelakan untuk tidak ikut Kongres Bahasa, karena keterbatasan uang dan Balai Bahasa juga tidak dapat mensupport saat aku minta saat itu. Lalu, sebenarnya lagi aku bisa mendapatkan kesempatan untuk ikut Temu Mahasiswa Bidikmisi 2016 di Solo, namun ternyata aku kalah saing dengan senior-seniorku yang juga berprestasi, katanya aku hanya kalah di angkatan, dan aku dicanangkan untuk tahun 2017 saja, oke aku terima, karena aku juga sadar diri. Jadilah akhirnya aku hanya pergi ke Bandung saja untuk mengikuti LKMM.

1516562047106
Sirloin Steak : Nama angkatan LKMM ISMKI Wilayah 2 Generasi-9
Awal tahun 2017, aku sangat bersemangat untuk menjalani kehidupan sebagai seorang senior dan mengumpulkan prestasi untuk Mawapres, ya karena di FK saat itu yang bisa ikut seleksi Mawapres hanya yang semester 6, meskipun di guideline Dikti menyebutkan mahasiswa maksimal semester 6 yang boleh ikut seleksi. Tapi tidak apa, aku ambil hikmahnya, aku akan punya waktu lebih banyak untuk menabung prestasi.

1516562736348
Juara 3 Lomba Karya Tulis Perpustakaan Kota Pontianak
Perjalananku dimulai Maret 2017, saat aku terpilih untuk mengikuti Youth Adventure Day (YAD) 2017 diselenggarakan oleh Yayasan Indonesian Youth Dream di Yogyakarta, dan ini self-funded. Aku memberanikan diri untuk pergi, hari Jumat dan untungnya saat itu bertepatan dengan selesainya ujian akhir modul (sumatif 2), namun aku harus mengambil langkah berani untuk pulang pada hari Senin karena harga tiket yang lumayan mahal di hari minggu, ini juga aku manfaatkan untuk refreshing di  di Yogyakarta. Kegiatannya lumayan seru dan dihadiri oleh 100an pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, dan yang paling utama adalah kegiatan adventure di Kebun Buah Mangunan, naik turun bukit dari jam 9 pagi sampe jam 4 sore, alam Yogyakarta memang bagus! Selesai kegiatan hari minggu malam, dan aku hampir terlantar karena teman-teman yang ada di Yogya tidak dapat menemuiku, alhasil aku bersama teman-teman dari Makassar mencari tempat penginapan, dan beruntungnya kami dapat tempat penginapan didekat Jalan Malioboro. Malam itu aku habiskan untuk jalan-jalan sebentar, dan besok paginya aku pergi membeli bakpia, pesawatku take off jam 11 siang. Ini pertama kalinya aku pergi sendirian tanpa didampingi siapapun, obat anti vertigo selalu stand by di tasku. Ternyata seru juga travelling sendirian, dan ke daerah baru. Aku ketagihan.

IMG_7968 

Lanjut, trip kedua dan ceritanya lebih ribet lagi. Sebelumnya aku harus menjelaskan beberapa hal : di kedokteran, sabtu minggu bisa saja ada jadwal kuliah dokter dari luar yang diminta untuk mengajar, jadi pada awalnya dulu aku sangat menghindari kegiatan di sabtu minggu yang ada jadwal kuliah, singkatnya aku tidak mau bolos sama sekali. Namun makin kesini, aku makin sadar bahwa jatah bolos 25% atau sekitar 6-7x pertemuan itu bisa aku manfaatkan ke hal-hal yang lebih berguna, jadi saat ini ketika aku mengikuti kegiatan dan ternyata kegiatan tersebut bentrok dengan kuliah, aku masih berani bolos, namun jika sudah menyangkut kegiatan kuliah yang 100% ataupun ujian, aku memilih akademik daripada non-akademik. Selain itu jadwal ujian juga bisa berubah-ubah, apabila ada mata kuliah yang belum dikuliahkan, maka ujian belum bisa dilaksanakan.

Saat maba (lagi), aku bertekad untuk mengikuti sebuah kegiatan yang fully funded yang diselenggarakan oleh INDOHUN bernama Global Health True Leader, karena menurutku ini program yang seru dan kesempatan emas untukku, selain itu ada senior-seniorku yang pernah mengikuti kegiatan ini juga. Sekitaran awal Juni program ini kembali dibuka, yaitu Global Health True Leaders 2.0, yang akan diselenggarakan di Surkarta. Aku mencoba untuk apply, karena requirement utamanya adalah mahasiswa tingkat 2. Dan akhirnya aku lolos, berangkat ke Solo pada tanggal 24 Juli - 31 Juli, total peserta yang ikut 56 yang terdiri dari peserta Indonesia dan 4 orang dari Filipina, kegiatan ini full berbahasa Inggris. Selama 7 hari di Solo, flu dan batuk tidak kunjung hilang sejak hari pertama, ya aku tidak terlalu biasa beradaptasi dilingkungan yang suhunya lebih rendah daripada Kota Pontianak, aku akan flu, batuk, dan demam. Selama 7 hari juga, aku selalu minum obat baik parasetamol, obat vertigo, atau obat flu dan batuk karena mobilisasi yang cukup tinggi terutama di hari ke 4 & 5, dimana aku harus menginap dirumah warga lokal di Gunung Lawu.

IMG-20170804-WA0009 

Tanggal 31 jam 11 pesawatku take off dari Solo ke Pontianak, dan tiba di Pontianak hampir magrib. Saat itu aku berkeringat seperti habis diguyur air, kenapa Pontianak panas kayak gini? Aku shock, dan aku sadar bahwa tubuh ini beradaptasi lagi. Magrib sampai dirumah, jam 8 malam aku sudah take off kembali ke Jakarta untuk persiapan LKMM, bukan sebagai peserta namun sebagai Komandan Lapangan/Danlap (bidang kedisiplinan). Ya, aku akan mengkader adik-adikku di wilayah 2, yang mana LKMM akan dilaksanakan tanggal 3-6 Agustus di Bandung. Jam 10 aku sampai di Jakarta dan akan menginap di kos teman yang juga Danlap dan akan pergi bareng ke Bandung tanggal 2, aku memilih menggunakan ojek online motor daripada mobil karena saat itu aku dilanda mabuk udara (dalam 1 hari itu aku naik 3 pesawat). Insiden tidak mengenakkan terjadi, ketika melaju dijalan raya, aku yang mencoba melihat alamat temanku di handphone, malah handphone tersebut terlepas dari tanganku dan jatuh, sayangnya juga terlindas mobil, untung aku membawa 2 handphone dan sudah menyalin nomor temanku di handphone satunya.

Di Jakarta, aku pergi ke apartemen temanku untuk latihan Danlap, Danlap itu sendiri terdiri dari 4 orang, aku, dan teman perempuan yang aku tumpangi kosnya bernama Anis (dari UPN VJ), ada Taufik (Trisakti) dan Fasya (UNISBA). Temanku yang tinggal di apartemen itu adalah seorang kepala divisi PSDMO di ISMKI yang disebut bidang Leadership Development (LD). Faktanya, aku juga sebenarnya merupakan staff dari LD itu sendiri, namun di tingkat nasional, sedangkan kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan tingkat regional (wilayah 2) yang dimana memiliki bidang LD, namun aku tidak tergabung disitu, aku hanya bertugas untuk mengawasi jalannya acara sembari menjadi Danlap. Sebenarnya untuk bonding  dan latihan harusnya dilakukan jauh hari, tidak mepet seperti ini, tapi karena kami juga sibuk sehingga baru bisa berkumpul dalam waktu yang mepet. Dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat, 2 hari aku bolak balik, namun ada serunya juga karena aku dapat mencoba naik kereta dan busway di Jakarta, namun aku stress dengan kemacetannya. Tanggal 3 subuh, aku berangkat ke Bandung bersama teman-teman, dan akhirnya tanggungjawab dimulai, selama 4 hari aku mencoba untuk menjadi seorang yang mendisiplinkan adik-adikku di LKMM generasi 10. Tak mudah menyatukan 4 kepala yang ternyata semuanya adalah pemimpin (Presbem FK USAKTI, Kadep PSDMO UPN, Wapresbem FK UNISBA), meskipun sering berdebat dan kesal, tapi dihari kepulanganku rasanya sedih meninggalkan mereka, bukan hanya tim Danlap namun juga keluarga-keluargaku di LKMM tahun lalu yang ikut hadir menjadi fasilitator maupun panitia.

GenTen_171221_0014
Lokasi : Universitas Kristen Maranatha (pihak penyelenggara) & In Frame : Tim Komandan Lapangan LKMM ISMKI Wilayah 2 Generasi-10 (kiri ke kanan) : Fitri, Taufik, Anis, Fasya
Tanggal 6 Agustus pagi, aku berangkat menuju Jakarta dan pulang ke Pontianak. Aku sangat lelah, bahkan ketika menjadi Danlap kondisiku tak kunjung membaik, malah memburuk, flu dan batuk tidak hilang. Untung saja ketika aku pulang, aku ditemani salah seorang teman sekelas yang ikut hadir di LKMM karena dia merupakan staff LD yang bertanggungjawab dalam kegiatan itu, aku bisa sedikit beristirahat di bandara sambil menunggu pesawat yang delay. Sesampai aku dirumah, aku langsung istirahat, lelah tiada tara, 2 minggu melakukan perjalanan melintasi 4 provinsi, pengalaman yang menyenangkan tapi sangat melelahkan.

S__7413780.jpg
Reuni Sirloin Steak (Sebagai fasilitator, panitia, & pihak LD)
Esok paginya aku masih belum tenang, kenapa? Karena aku terpilih menjadi peserta Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2017 jalur Mahasiswa, aku mengaku salah, karena terpilihnya aku sebagai peserta ENJ sebenarnya pada awal Juli lalu, aku yang meminta teman-teman untuk menyesuaikan tanggal keberangkatan setelah aku pulang dari Bandung. Aku bahkan belum sempat berkemas, packing baju saja belum, aku tidak menyiapkan apa-apa, padahal hari itu aku harus berangkat ke pelabuhan untuk menuju Ketapang. Hatiku berat untuk pergi, karena aku baru pulang dan kondisi belum stabil, dimana ENJ ini juga akan dilaksanakan selama 28 hari hingga akhir 28 Agustus dan itu belum terhitung tanggal pulang, sedangkan 29 aku bertanggungjawab menjadi Danlap di kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru FK 2017 sampai tanggal 31. Aku bingung, namun saat itu aku tetap mengikuti acara pelepasan di gedung rektorat. Selepas itu aku ke kampus sebentar untuk mengurusi daftar ulang dan ternyata aku dicari oleh dosen pembimbing skripsi, aku harus maju seminar proposal bulan ini.

Memang aku mangkir sejak Juli kemarin karena harus sibuk dengan kegiatan ini itu, menyelesaikan modul. Aku takut membuat kecewa dosen pembimbingku karena beliau sudah sangat baik denganku, salah satu faktor lain adalah beliau cukup tegas dan disegani oleh mahasiswa, sehingga aku tidak bisa menolak permintaan beliau untuk menemuinya minggu-minggu ini segera untuk revisi makalah. Padahal aku sudah bilang bahwa aku akan memiliki kegiatan lain bulan ini, namun sepertinya beliau tidak mengindahkan hal tersebut. Keputusan berat harus kuambil, aku pergi ke titik kumpul teman-teman ENJ dan memberitahukan bahwa aku tidak bisa ikut. Mereka kecewa, aku tau itu, tapi apa yang bisa aku perbuat? Masa depanku lebih penting daripada hal ini, aku harap masih bisa mendapatkan kesempatan dilain waktu.

Akhirnya aku batal mengikuti ENJ Mahasiswa di Pulau Maya Kabupaten Ketapang. Aku berfokus pada seminar proposalku, meskipun pada akhirnya aku seminar di awal September karena beberapa hal, tetapi setidaknya aku sudah satu langkah lebih maju, karena aku juga yakin kalau aku tidak dikejar-kejar seperti ini, aku pasti akan terus menunda seminar proposalku. Sekarang, aku tinggal berusaha untuk menyelesaikan penelitian akhir saja.

1516562458258.jpg
Akhirnya Seminar Proposal~
Hikmah yang bisa diambil adalah, bahwa seambisius apapun aku, aku harus mempertimbangkan hal-hal lain, mempergunakan waktu dengan bijak, serta harus memperhatikan kondisi kesehatanku. Ada hal-hal yang tidak dapat kita nomorduakan, karena hal tersebut mungkin menyangkut masa depan. Aku saat itu memang sangat berambisi untuk mengisi waktu libur dengan kegiatan full keluar, namun sayangnya ternyata itu tidak baik untuk aku dan lingkungaku. “Ambisimu jangan sampai menjadi jebakanmu”

2017 merupakan tahun yang berharga untukku, memberikan aku pelajaran penting, bahwa jalan yang aku pilih saat ini ternyata masih mampu untuk aku perjuangkan, aku masih mampu untuk berusaha “bergerak” meskipun sulit, aku tidak menyangka sudah berjalan sejauh ini, hampir ke titik finish. Aku terus belajar dan belajar, bukan hanya memperkaya diri namun juga bermanfaat bagi lingkungan.
Kisah lain akan berlanjut di tulisan selanjutnya, terimakasih sudah membaca cerita yang cukup panjang ini ya, readers!

DSCF0072.jpg
GHTL 2.0 : Membantu panen wortel bersama warga lokal, kain merah yang ada dibahu merupakan tanda bahwa yang memakai adalah ketua harian yang sedang menjabat.

0 Comments