CLIMATE CHANGE, SALAH SIAPA?

tumblr_njb0zfbnzu1sjwwzso1_500
Sumber gambar : Zedem Media
Berbicara tentang climate change atau perubahan iklim, tentu saja merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi setiap orang. Namun, apakah memang ketidakasingan itu sudah berarti orang tersebut memahami arti dari climate change yang sesungguhnya?

Climate change terus menjadi isu utama dalam kampanye oleh aktivis serta organisasi lingkungan di dunia. Naiknya suhu bumi kurang lebih 1 derajat celcius di abad kedua puluh ini dan diperkirakan akan terus meningkat, memberikan dampak yang mengakibatkan perubahan-perubahan bentuk muka bumi. Naiknya air laut mulai menenggelamkan sebagian pulau-pulau kecil yang memiliki ketinggian diatas permukaan laut yang rendah. Dampak lain yang mulai dirasakan adalah perubahan cuaca yang begitu ekstrem, pada pagi hari mungkin boleh matahari bersinar dengan cerah, namun ketika hari mulai siang terkadang matahari terasa bersinar sangat terik sehingga suhu yang dirasakan oleh kita begitu panas, namun pada sore harinya kita dikejutkan oleh langit yang tiba-tiba berubah menjadi mendung dan akhirnya turun hujan hingga malam hari. Tak jarang, panasnya suhu tersebut ketika terjadi di musim kemarau, memicu kebakaran hutan yang besar. Selain itu, terganggunya habitat di alam bebas akibat perubahan suhu bumi memicu munculnya hewan-hewan langka akibat ketidakmampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dengan cepat.

Gas rumah kaca, seperti metana, karbon monoksida, dan salah satunya adalah karbon dioksida (CO2) normalnya merupakan komponen penjaga suhu bumi agar tetap stabil dan cocok untuk keberlangsungan makhluk hidup didalamnya. Namun, jika jumlahnya berlebihan maka hal ini akan menjadi penyebab utama terperangkapnya lebih banyak energi panas didalam bumi yang mengakibatkan meningkatnya suhu permukaan bumi. Karbon dioksida bebas diatmosfir membuat sinar matahari tidak dapat memantul sempurna keluar dari bumi sehingga sisa-sisa pantulan tersebut akan terus berada didalam bumi yang akan mengakibatkan bertambahnya suhu permukaan bumi itu sendiri. Meningkatnya jumlah produksi karbondioksida dunia berasal dari kendaraan, manusia, kebakaran hutan, serta salah satu faktor terbesar adalah menipisnya jumlah hutan sebagai penyangga ekosistem dan peredam karbondioksida itu sendiri. Indonesia diketahui sebagai bagian dari paru-paru dunia, yang terkenal dengan hutan hujan tropis di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Hadirnya pohon-pohon yang membentuk sebuah ekosistem hutan menyerap karbondioksida yang beredar bebas di udara dan menyimpannya untuk membantu keberlanjutan metabolisme pohon tersebut, ketika hutan ditebang dan dibakar akan menimbulkan ledakan karbondioksida dua kali lebih besar kedalam atmosfir, kenapa dua kali lebih besar? Karena yang pertama karbon dioksida yang telah disimpan didalam pohon-pohon tersebut akan kembali terlepas ke atmosfir, yang kedua karbon dioksida kembali ditambah melalui proses pembakaran pohon-pohon tersebut, sehingga karbondioksida yang terlepas pada kejadian kebakaran hutan mengakibatkan pelunjakan drastis kadar gas rumah kaca di atmosfir.

Gas rumah kaca berperan layaknya seperti sebuah jaket, semakin tebal jaket yang digunakan maka akan semakin meningkatkan panas di bumi. Selain itu, faktanya bahwa laut juga berperan dalam menyerap karbon dioksida yang berlebihan di atmosfir, mengakibatkan pH laut menjadi lebih asam, tentu saja kondisi tidak cocok untuk kelestarian kehidupan laut. Selain itu menurut World Wildlife Fund (WWF) pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam memiliki dampak yang paling besar dibandingkan dengan aktivitas manusia lainnya. Secara global, pembangkit listrik bertanggung jawab terhadap 23 miliar ton dari emisi karbondioksida per tahun, yang berarti 700 ton karbondioksida dihasilkan perdetik. Setiap unit energi yang diproduksi dari batu bara menyumbangkan 70% karbondioksida dibandingkan dengan produksi energi dari gas alam lainnya.

Saat ini aktivis serta organisasi lingkungan dunia mulai semakin gencar mengkampanyekan isu-isu lingkungan. Pentingnya kesadaran bagi setiap orang adalah fokus utama yang ingin dicapai dalam mengedukasi orang lain mengenai isu tersebut. Telah banyak organisasi maupun komunitas berbasis lingkungan yang telah tersebar di seluruh Indonesia dan dunia, dengan berbagai macam nama serta komposisi anggota, tujuan mereka tetap sama yaitu menyelamatkan bumi dari kerusakan yang lebih lanjut akibat dari aktivitas manusia. Pentingnya partisipasi aktif dari setiap orang dalam menjalani gaya hidup hijau tentu merupakan sebuah kontribusi kecil untuk menjaga lingkungan. Contoh perilaku sederhana yang dapat dilakukan adalah :
  • Selalu melepas charger handphone/laptop setelah dipakai dapat mengurangi penggunaan listrik yang berlebihan, karena meskipun telah dicabut dari handphone/laptop listrik akan tetap mengalir dan terbuang sia-sia, dan sudah pasti akan menambah angka tagihan listrik.
  • Mematikan alat elektronik yang tidak dipakai untuk menghemat listrik, hal ini juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membayar tagihan listrik.
  • Pastikan ban motor atau mobil tidak kempes. Karena konsumsi bahan bakar akan meningkat ketika kendaraan mengangkut beban lebih berat. Lebih baik lagi jika kurangi menggunakan kendaraan sendirian, dengan kata lain nebeng.
  • Menjaga ruang terbuka hijau dirumah, untuk rumah yang memiliki lahan kosong lebih baik ditanami pohon atau tanaman hias, selain menambah estetika juga akan menambah kesejukan dan keteduhan disekitar rumah.
  • Membawa botol minum sendiri, selain menghemat uang juga akan membantu mengurangi sampah botol plastik.
  • Tidak membuang makanan, karena proses pembusukan akan menimbulkan gas metana yang merupakan salah satu gas rumah kaca.
Climate change memanglah sebuah masalah yang menjadi urusan setiap orang yang ada di bumi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang bertanggungjawab atas sampah yang ia hasilkan sendiri didalam hidupnya, secara tidak langsung orang itu telah berperan dalam permasalahan ini. Berat atau ringannya dampak tergantung kepada berapa banyak orang yang ikut berperan didalamnya. Oleh karena itu climate change bukanlah tentang salah siapa, namun tentang peran apa yang dapat kita berikan sebagai kontribusi kecil untuk menjaga lingkungan, terutama lingkungan terdekat kita. Karena bumi adalah warisan bagi setiap orang yang hidup di saat ini, untuk anak-anak mereka di masa depan, sehingga wariskanlah bumi yang tetap penuh dengan kekayaan dan keanekaragaman sebagaimana awalnya ia terbentuk.

0 Comments