Jejak Karbon, Jejak Masa Lalu?

Sebagian orang saat ini mungkin asing mendengar istilah "Jejak Karbon" atau Carbon Footprint. Apa yang terlintas dibenak kalian ketika membaca atau mendengar kata-kata tersebut? Sebuah peninggalan? Atau fosil prasejarah? Atau semua hal yang berbau "masa lalu"? Faktanya, jejak karbon saat ini merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi ketidakseimbangan di alam yang akan berkaitan dengan climate change.

Berbicara tentang climate change, "jejak" merupakan metafora untuk menggambarkan sebuah dampak yang dihasilkan oleh sesuatu hal sedangkan "karbon" sendiri merupakan representatsi dari gas rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global.(1) Secara keseluruhan, jejak karbon adalah ukuran dari jumlah total Karbon Dioksida (CO2) dan emisi gas rumah kaca lainnya yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh suatu kegiatan, atau yang terakumulasi selama masa hidup suatu produk, orang, organisasi, atau bahkan kota atau negara bagian. Carbon footprinting adalah ukuran dimana perusahaan atau individu dapat menghitung berapa banyak emisi karbon yang mereka hasilkan selama proyek atau periode waktu.(2)

Sudah pasti, setiap kegiatan yang dilakukan oleh makhluk hidup akan menghasilkan jejak karbon, sekedar bernafas saja sudah berkontribusi terhadap jejak karbon, bukan? Manusia merupakan salah satu pelaku yang paling banyak menghasilkan jejak karbon di muka bumi ini, tidak tanggung-tanggung, manusia dapat membangun ribuan pabrik yang mana cerobong asapnya tidak henti mengeluarkan emisi gas rumah kaca, yang pada akhirnya menghasilkan polusi udara itu sendiri. Adapun enam jenis gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia menurut United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yaitu Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitro Oksida (N2O), Hydrofluorocarbons (HFCs), Perfluorocarbons (PFCs) dan Sulfur hexafluoride (SF6).(3)

Berdasarkan hasil pengamatan, ternyata suhu bumi saat ini sudah naik dengan rata-rata suhu kenaikan sebesar 1°C dihitung sejak awal revolusi industri terjadi, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga bisa mencapai suhu lebih dari 3,5°C pada akhir 2100 jika kita tidak melakukan tindakan untuk mengurangi lajunya produksi emisi gas rumah kaca dari kegiatan manusia.(3) Bayangkan saja besaran emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh penggunaan avtur (bahan bakar pesawat)  adalah 2,20 kg CO2/liter, solar adalah 2,68 kg CO2/liter, dan untuk bensin sebagai bahan bakar sehari-hari 2,35 kg CO2/liter.(4) Sedangkan untuk setiap penggunaan lampu berdaya 10 Watt yang dinyalakan selama 1 jam, maka CO2 yang dihasilkan adalah 9,51 gram.(3)

Jejak karbon itu sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu : jejak karbon primer dan jejak karbon sekunder. Jejak karbon primer itu sendiri merupakan emisi gas yang dihasilkan akibat pembakaran langsung bahan bakar fosil, contohnya adalah penggunaan kendaraan pribadi. Sedangkan jejak karbon sekunder merupakan emisi gas yang dihasilkan melalui tahapan produksi hingga penguraian, contohnya adalah makanan.(4) Bahkan berdasarkan penelitian oleh profesor di Universitas Manchester menyebutkan bahwa sandwich siap saji yang berisi telur, bacon dan sosis memiliki jejak karbon tertinggi, menghasilkan 1,441 g setara karbon dioksida (CO2-equivalent); sama dengan mengendarai mobil rata-rata 12 mil.(5) Menurutnya kegiatan produksi dan pengolahan bahan-bahan pertanian ditemukan menjadi penyumbang terbesar jejak karbon sandwich, terhitung sekitar 37% hingga 67% CO2-eq untuk sandwich siap saji. Bahan kemasan berkontribusi 8,5% dari CO2-eq dan pengangkutan serta pendinginan sandwich menambah jejak karbon 4% lebih lanjut.(5)

Secara sederhana, jejak karbon menghitung semua aktivitas yang membuat emisi gas rumah kaca terlepas ke udara, seperti pengangkutan bahan makanan dari satu pulau ke pulau lain, tentu membutuhkan kapal dan menggunakan bahan bakar. Pengemasan sebuah produk, menggunakan mesin dan listrik sehingga akan mengkonversi bahan bakar fosil sebagai tenaga, pengolahan bungkus plastik juga membutuhkan mesin-mesin canggih, dan sebagainya. Ini merupakan contoh dalam tahap industri ataupun organisasi.

Lalu bagaimana contoh dalam tingkat individu? Kita bisa lihat, seberapa banyak kita berlama-lama diruangan ber-AC? Atau, seberapa banyak kita membuang makanan yang kita miliki? Atau seberapa sering kita menggunakan kendaraan pribadi selama ini? Bahkan, ada fakta menarik, bahwa di negara Barat, faktor terbesar penyumbang emisi gas rumah kaca khususnya gas metana adalah dari kentut sapi atau hewan memamah biak lainnya. Karena seperti yang kita ketahui bahwa tingkat konsumsi daging disana cukup tinggi, sehingga peternak bahkan memiliki lahan yang lebih luas untuk hewan ternak dibandingkan dengan menanam jagung atau lainnya. Lucu bukan?

Mengurangi jejak karbon hingga menuju angka nol merupakan sebuah kemustahilan, karena bagaimanapun kita akan menghasilkan emisi dalam setiap kegiatan kita. Tetapi, yang sebenarnya bisa kita lakukan adalah mengurangi jejak karbon itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa gas-gas rumah kaca yang telah disebutkan diatas merupakan agen yang dapat menangkap panas, secara umum gas-gas yang berada dalam rentang kadar normal ini akan berada di atmosfir dan bertugas untuk menjaga suhu bumi agar tetap hangat dengan menangkap sinar matahari. Namun, dalam kondisi yang berlebihan tentu tidak baik. Karena semakin banyak gas rumah kaca yang ada di udara, maka semakin banyak panas yang ditangkap dan suhu bumi akan terus meningkat.

Lalu bagaimana cara kita mengurangi jejak karbon? Tentu saja hal ini tidak lepas dari gaya hidup ramah lingkungan (greenlifestyle) yaitu 3R, telah banyak contoh yang dapat teman-teman cari tahu lebih lanjut di google, contohnya melepaskan charger handphone atau laptop setelah dipakai untuk menghemat listrik, membawa botol minum sendiri, memasak makanan sendiri, sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. One simple thing for our big world.
dreamstime_m_99690329
Carbon Footprint (6)

Telah banyak kampanye-kampanye climate change yang digalakkan oleh aktivis-aktivis lingkungan di dunia. Tinggal bagaimana kita ikut berperan dalam menjaga bumi yang kita tinggali bersama-sama. Karena jangan sampai kita menjadi generasi yang egois dengan tidak mempedulikan kesehatan bumi, hanya untuk memenuhi kesenangan kita saja namun tidak berpikir bahwa masih ada anak cucu kita yang layak menikmati keadaan bumi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Nah, sudah pada paham dengan jejak karbon, kan? Kalian bisa mencoba menghitung berapa banyak jejak karbon yang kalian hasilkan sendiri, dapat mencarinya di google dengan kata kunci "carbon footprint calculator", salah satunya adalah kalkulator dari WWF UK. Selamat mencoba!

Daftar Pustaka :
  1. What is a carbon footprint? - https://www.theguardian.com/environment/blog/2010/jun/04/carbon-footprint-definition
  2. GOODIER, C., 2010. Carbon footprint. IN: Cohen, N. and Robbins,
    P. (eds.) Green Cities: An A-to-Z Guide. London: SAGE Publications, pp. 49
    - 53. - for download : click here.
  3. Tentang Jejak Karbon - http://www.iesr.or.id/kkv3/tentang-jejak-karbon/
  4. Jejak Karbon - http://www.biru.or.id/index.php/news/2017/02/16/273/jejak-karbon.html
  5. Climate change: Sandwiches eaten in UK 'have same environmental impact as eight million cars' - https://www.independent.co.uk/news/science/uks-consumption-of-sandwiches-has-same-environmental-impact-as-eight-million-cars-a8176936.html
  6. How blockchain technology is helping to reduce our carbon footprint -  footprinthttps://globalcoinreport.com/how-blockchain-technology-is-helping-to-reduce-our-carbon-footprint/

0 Comments