Menghirup Polusi di Tengah Kabut Asap

Beberapa minggu terakhir Kalimantan Barat kembali dilanda kabut asap yang cukup tebal, hal ini kembali mengingatkan insiden kabut asap tebal yang cukup menggemparkan pada tahun 2015 lalu. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk Kota Pontianak bahkan telah menunjukkan kualitas udara yang sudah masuk ke fase "Sangat Tidak Sehat", abu-abu sisa pembakaran pun beterbangan bebas kesana kemari dan mengotori apapun yang dihinggapinya. 
39685830_1824357364267017_3631640516602363904_o
ISPU Kota Pontianak

Sampai pada akhirnya sekolah-sekolah diliburkan untuk mengurangi aktivitas anak-anak diluar rumah, agar tidak terpapar kabut asap yang semakin menjadi.

39453297_10216421935331025_596767860190085120_o

Hingga kini, masyarakat masih mendorong pemerintah untuk mengusut tuntas aksi pembakaran lahan yang terjadi baik di Kota Pontianak maupun sekitarnya. Hal ini menjadi kekhawatiran bersama mengingat bahwa saat ini Indonesia sedang memasukki musim kemarau, ditambah lagi dengan kondisi tanah Kalimantan Barat yang merupakan tanah gambut, sehingga hotspot-hostpot yang ada dapat berubah menjadi firespot didalam tanah tanpa terdeteksi, hanya menunggu kondisi yang pas untuk menjadi api besar dan membakar lahan sekitarnya. Tak tanggung-tanggung, terhitung dari 12-19 Agustus telah ada sekitar 2.721 titik hostpot yang tersebar di Kalimantan Barat, sehingga semakin membuat masyarakat khawatir apabila tidak ditangani dengan baik. Tetapi masyarakat tidak hanya diam, ada yang berinisiatif untuk melakukan gerakan melawan asap, baik membagi-bagikan masker maupun turun langsung membantu petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api didaerah yang sedang ataupun berpotensi terbakar.
39538995_10216428349571377_6553746792318500864_o
Peta Hotspot di Kalimantan Barat


Aksi pembakaran lahan dan hutan itu sendiri masih menjadi sebuah PR yang besar untuk diatasi oleh pemerintah. Faktor yang mendorong terjadinya kebakaran lahan dan hutan itu sendiri sebenarnya cukup terbagi atas dua saja, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam dapat berupa musim kemarau dan ditambah kondisi lahan bersemak serta tipe tanah gambut yang kedalamannya hinga bermeter-meter, yang mana kondisi tanah gambut yang kekeringan akan sangat mudah terbakar, dan kalaupun sudah dipadamkan api yang ada dipermukaan, bisa jadi masih ada api yang tersisa dibagian dalam tanah dan akan naik kembali dan terbakar.

Sedangkan faktor manusia itu sendiri, terjadi karena adanya pembukaan lahan untuk kawasan pemukiman atau perkebunan yang bisa terjadi didaerah pinggiran kota, maupun pembersihan lahan, hingga perubahan hutan menjadi kawasan industri kelapa sawit yang semakin membuat kondisi Kalimantan menjadi lebih kering. Pembakaran hutan maupun lahan sebenarnya sudah ada regulasi yang mengatur, seperti UU No. 32 Tahun 2009, UU No. 44 Tahun 1999, maupun UU No. 18 Tahun 2004, dimana tindakan pembakaran hutan ataupun lahan merupakan kegiatan yang dilarang dan dapat dikenakan sanksi mulai dari hukuman paling ringan 5 tahun dan denda maksimal 10 miliar. Namun, dengan adanya peraturan tersebut nyatanya masih saja dapat terulang kejadian kabut asap di Kalimantan Barat, ada apakah ini?

Tidak hanya alam yang merugi karena hancurnya habitat flora dan fauna maupun terjadinya ketidakseimbangan di ekosistem hutan Kalimantan itu sendiri, namun juga adanya kabut asap ini tentu akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit pernapasan, atau yang paling populer adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
39813767_1824346737601413_3148377543850065920_o
Kondisi Kota Pontianak yang berkabut asap saat sore hari

Pertama-tama kita harus mengenal tentang Particulate Matter (PM) : (1)

“The term for a mixture of solid particles and liquid droplets found in the air. Some particles, such as dust, dirt, soot, or smoke, are large or dark enough to be seen with the naked eye. Others are so small they can only be detected using an electron microscope.”

Jadi PM ini adalah istilah untuk partikel padat atau cair yang ditemukan di udara, dimana PM ini merupakan salah satu dari 5 parameter yang digunakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dalam mengukur Indeks Standar Pencemaran Udara. Nah PM ini juga terbagi atas dua jenis, yaitu :
  1. PM10 : partikel yang dapat dihirup, dengan diameter yang umumnya 10 mikrometer dan lebih kecil; dan
  2. PM2.5 : partikel yang dapat dihirup dan sangat halus, dengan diameter yang umumnya 2,5 mikrometer dan lebih kecil. (Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia 70 mikrometer!)
Kabut asap hasil pembakaran hutan dan lahan merupakan gas dan partikel berbahaya untuk kesehatan jika terhirup manusia.(2) Partikel tersebut dapat disebut PM, dan apabila dalam jumlah yang sangat banyak masuk ke dalam alveoli dan melumpuhkan pertahanan mukosiliaris (cairan mukus dan bulu-bulu yang disebut silia), yang apabila pertahanan tersebut hancur, kuman dan virus mudah masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan infeksi seperti ISPA, pneumonia, bronkopneumonia, bronkitis dan edema paru(3). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (jaringan pembungkus paru-paru), dan berlangsung selama 14 hari.(4)

Mekanisme terjadinya ISPA itu sendiri dimulai dari adanya partikel yang terhirup oleh manusia. Partikel berukuran besar akan tertahan pada saluran pernafasan atas, sedangkan partikel kecil (inhalable) akan masuk ke paru-paru dan bertahan di dalam tubuh dalam waktu yang lama(5). Sebenarnya sistem pernafasan manusia sudah memiliki sistem pertahanan yang dapat mencegah masuknya benda asing yang masuk. Bulu hidung mencegah masuknya partikel yang berukuran besar(6). Masuknya partikel yang berukuran kecil akan dicegah oleh membran  mukosa. Debu yang mengendap pada bronkus (cabang besar paru-paru) dan bronkioli (cabang kecil paru-paru) akan dikeluarkan oleh silia yang bergetar dan menggerakkan mukus ke arah atas menuju tenggorokan (faring) sehingga mukus dapat ditelan ke dalam kerongkongan (esofagus). Proses ini membantu dalam membersihkan sistem respirasi. Selain itu, mekanisme batuk adalah cara lain untuk mengeluarkan debu-debu tersebut.
df9ed1eb18ccd44f97f78aa34ee26a5f
Ilustrasi Paru-Paru


Nah debu-debu tadi yang merupakan efek dari pencemaran udara dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan  dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernapasan yang menyebabkan iritasi. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernapasan. Akibatnya, akan menyebabkan kesulitan bernapas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat keluar dari saluran pernafasan. Karena terjadinya akumulasi dalam jangka waktu tertentu, ditambah lagi dengan menurunnya imunitas maka kuman ataupun virus dari udara dapat masuk dan menyebabkan infeksi di saluran pernafasan atau yang disebut ISPA(7).

Infeksi saluran pernapasan akut dapat diklasifikasikan menjadi ISPA ringan, meliputi batuk tanpa pernapasan cepat, hidung tersumbat, tenggorokan merah, telinga berair. Infeksi saluran pernapasan akut sedang meliputi batuk dan napas cepat tanpa stridor, gendang telinga merah, dari telinga keluar cairan kurang dari 2 minggu. Faringitis purulen (radang tenggorokan dengan pus) dengan pembesaran kelenjar limfe yang nyeri tekan (adentis servikal). Dan ISPA berat meliputi batuk dengan napas berat, cepat dan stridor (bunyi kasar saat menarik napas), membran keabuan di taring, kejang, apnea (henti napas), dehidrasi berat/tidur terus, sianosis (kebiruan akibat kekurangan oksigen) dan adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam(8).

Gangguan kesehatan akibat kebakaran hutan lebih nyata dijumpai pada lanjut usia dan balita, atau mereka yang telah mengalami penyakit paru-paru sebelumnya(9). Penurunan kualitas udara Kota Pontianak sebagai akibat dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan peningkatan jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan gangguan saluran pernafasan lainnya. Di Kota Pontianak, kasus ISPA termasuk pneumonia selalu menempati urutan pertama dalam sepuluh kasus penyakit terbesar (10). Miris ya?

Nah, bagaimana cara pencegahan penyakit gangguan napas yang dapat kita lakukan saat ini? Silahkan lakukan :
  • Menggunakan masker ketika beraktivitas diluar
  • Banyak minum air putih agar tidak dehidrasi
  • Banyak makan buah dan sayur untuk meningkatkan kesehatan secara alami
  • Meminum suplemen dan vitamin tambahan apabila dirasa perlu
  • Jika terlanjur mengalami gejala ringan, maka banyak-banyak istirahat dan minum air putih dan makan buah dan sayur
  • Namun, jika kondisi semakin memburuk ataupun tidak sembuh-sembuh jangan ragu untuk berobat ke dokter.

Dengan adanya kejadian kabut asap ini diharapkan dapat menjadi momentum dimana kita semua dapat lebih peduli dalam menjaga lingkungan serta kesehatan diri, serta pelaku pembakaran lahan dan hutan dapat ditindak tegas oleh pemerintah. Jika kita menjaga lingkungan  maka kesehatan kita juga akan ikut terjaga 😊

Referensi :
  1. Particulate Matter (PM) Pollution : https://www.epa.gov/pm-pollution/particulate-matter-pm-basics#PM
  2. Anggraini. Ika Muthya, S. Adi Heru, Sukandarrumidi. Pengaruh kabut asap pada pneumonia balita di Kota Pontianak. Berita Kedokteran Masyarakat. 2015;32(4):113-8.
  3. Perwitasari D, Sukana B. Gambaran Kebakaran Hutan Dengan Kejadian Penyakit Ispa Dan Pneumonia Di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi Tahun 2008. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2012 Jun 29;11(2 Jun):147-57.
  4. Rasmaliah (2004). Infek,si Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2004
  5. Huboyo, H. S., & Sutrisno, E. (2009). Analisis Konsentrasi Particulate Matter 10 (Pm10) Pada Udara Diluar Ruang (Studi Kasus: Stasiun Tawang-Semarang). Teknik, 30(1), 44–48.
  6. Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  7. Media InformasiKesehatan Indonesia.Penyebab ISPA.  http://www.kesehatan123.com/1679/penyebab-ispa/
  8. Departemen Kesehatan RI. Pharmacheutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Jakarta: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI; 2005.
  9. Aditama TY. Dampak asap kebakaran hutan terhadap kesehatan paru. Jakarta: YP IDI&IDKI. 1999:3-3.
  10. BPS. Kalimantan Barat dalam Angka 2013, Badan Pusat Statistik. Pontianak; 2014.

0 Comments