A Hole in The Chest



Rasanya ada sebuah lubang menganga di dada ini, sensasi sesak dan kosong, atau sensasi lain yang tidak dapat terdeskripsikan oleh sebuah kata? Intinya itu.


Terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini, yang cukup mengurasi emosi dan tenaga. Sebenarnya aku bingung, ini perasaan yang campur aduk, sepertinya Quarter Life Crisis? Bisa jadi.

Tahun pertama aku koas, aku rasanya sudah kehilangan 90% semangatku untuk menjalani hidup, tidak sama seperti aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa S1 dulu. Benar-benar membuat aku down, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa pergi kemana-mana, dan tidak bisa menjadi "aku" yang kesana kemari. Aku terus memikirkan kenyataan ini, terkungkung dalam rutinitas yang tidak aku nikmati hingga beberapa tahun kedepan lagi.

Sedangkan di sekelilingku, teman-teman lain sudah mulai merintis jalan hidupnya masing-masing, mewujudkan mimpi, pergi keluar negeri, ya itu, masalahnya. Melanjutkan karir keluar negeri adalah impian terbesarku.

Aku ingin daftar beasiswa, aku ingin melanjutkan studi S2 ke Australia, aku ingin terpilih dalam program-program yang sudah aku impikan selama ini, aku ingin dan aku ingin... Tapi yang ada, stuck disini terus menerus.

Rasanya cemas, takut, galau, kalau aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Ada kecemasan berlebih.

Sebentar, ada kisah yang terlupakan,
Aku dekat dengan seorang laki-laki, sudah hampir 2 tahun. Dia benar-benar unik, humoris, serta pintar, dan kami sama-sama penggemar film Avenger.
Dia telah lulus dan sekarang melanjutkan hidup dengan bekerja di Australia. Tepat dimana aku merasakan ketidakseimbangan hidup dan menjadi beban pikiranku tentang quarter life crisis, haruskah aku menunggu dia atau sudahi saja perasaan ini?

Tak banyak kisah yang terjadi diantara kami, tapi setidaknya kami (ataupun sebenarnya dia) sudah tahu tentang perasaan dalam kedekatan ini. Hidup kami sekarang bukan lagi seperti anak-anak remaja yang haus dimabuk cinta, aku paham itu. Hidup kami berdua (dan kebanyakan dari kita) saat ini tentang membangun masa depan dengan realisasi ilmu yang telah didapat dari bangku kuliah.

Yup, mempersiapkan masa depan adalah hal yang lebih penting dibandingkan membangun hubungan, dan aku paham itu serta tidak menyalahkan dia. Kami berhak bahagia dengan pilihan masing-masing, aku dengan perjuanganku untuk menyelesaikan studi dan dia dengan perjuangannya untuk membantu ekonomi keluarga.

Seandainya kami bertemu lebih awal, apa masih mungkin untuk bisa bersama?

Menjalani hidup yang masih dihantui masa lalu tentu sulit,
Terlebih di saat seperti ini, dunia sedang kacau dengan serangan virus, diam di rumah merupakan sebuah kebaikan.
Sedangkan aku berkutat dengan pikiran serta perasaan diatas, quarter life crisis yang tidak hanya membuat jati diriku insecure, tapi juga tentang sedihnya perasaan yang tidak bisa dipaksakan, diperparah dengan bayangan masa lalu yang masih menghantui.

Aku berusaha untuk mencintai diriku, tapi rasanya semakin aku mencintai diriku, semakin aku tidak mengenal diriku saat ini. Kenapa? Aku pun tak mengerti.

Kesulitan terbesarku adalah move on dari sebuah hubungan yang gagal, move on terakhir yang berhasil aku coba perjuangkan berlangsung selama 6 tahun. Dan sekarang, aku masih terjebak dalam perasaan "sakit" ini, jangan tanya sudah berapa banyak usahaku untuk mendistraksi pikiran dan mencari kesibukan, serta satu kali mencoba menjatuhkan hati ke orang yang pada akhirnya tetap tidak bisa dimiliki.

Aku mengerti ini adalah proses yang harus aku jalani, karena aku pernah melalui ini sebelumnya. Tapi tentu tiap proses punya tantangan masing-masing, kali ini aku berlari dengan beban yang lebih banyak selain tentang melepaskan masa lalu, membuat kepalaku pusing dan aku tidak bisa fokus. Satu-satunya hal yang mengalihkan pikiranku hanyalah bermain medsos dan tidur, kedua hal ini yang  terus aku lakukan dalam beberapa hari ini. Aku mencoba hal lain, seperti bertemu orang maupun jalan-jalan sendiri kemanapun aku bisa, namun tetap begitu-begitu saja.

Patah hati selalu membakar semangatku untuk menjadi sosok lebih baik.

Patah hati pertamaku membawaku menjadi murid yang berprestasi, merenggut 2 kegiatan nasional, dan menjadi titik awal dimana aku berada saat ini.
Patah hati keduaku, membawa aku jauh lebih tinggi dari kemarin, membuat aku menerobos batas ketakutanku, membantuku untuk menggapai 2 kegiatan internasional, serta menjadi siapa aku hari ini.

Progress positifnya membuat aku hebat.
Karena itulah output yang aku inginkan, perasaan negatif (sedih, merasa tidak berharga karena ditinggalkan, merasa terkhianati, marah) akan kusalurkan menjadi bahan bakar untuk membuat aku sangat ambisius mencapai sesuatu.

Jadi, apakah aku harus patah hati berkali-kali agar dapat tetap "bersinar"?

It's hard condition for me right now, I can't think clearly, the chest feel so tight, my sleep isn't good at all, I want to put off all the luggages but they're still chained in my hand. 

Too many mixed feelings, I just try my best to overcome this by myself.

Hope I can go through this.

0 Comments